Rabu, 27 Januari 2016



MAKNA HARI JADI
(Sebuah Renungan Memperingati Hari Jadi Majene ke 470)

Oleh : Drs. Darmansyah
Ketua DPRD Kabupaten Majene/
Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Sulawesi Barat

Hari jadi dan hari lahir penulis memberikan defenisi dan pengertian yang berbedah, walaupun beberapa pakar sejarah dan kebudayaan tidak memberikan perbedaan. Hari lahir atau hari ulang tahun adalah hari dimana seseorang atau sebuah bangsa dilahirkan dan/atau diproklamirkan pertama kali. Sementara hari jadi adalah dimana sebuah daerah atau bangsa mengenal jati dirinya sebagai sebuah bangsa dalam fase kejayaan. Kurang lebih sama pengertian kata Ja’ala dengan kata Khalaka dalam Al-Qur’an. Ketika Tuhan hendak mengadakan sesuatu yang sebelumnya belum ada, maka Tuhan menggunakan kata Ja’ala “menciptakan”. Sementara kata Khalaka “Menjadikan” digunakan oleh Tuhan dalam mengadakan sesuatu yang sudah ada sebelumnya, contoh : wa iz qala rabbuka lil mala’ikati inni ja’ilun fil ardi khalifah “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, Aku hendak menciptakan (ja’ala) khalifa di bumi” (QS : Al-Baqarah : 30). Bandingkan dengan ayat : ya ayyuhan-nasuttaqu rabbakumul lazi khalaqakum min nafsiw wahidatiw wa khalaqa minha zaujaha wa bassa minhuma rijalan kasiraw wa nisa’a “Wahai sekalian manusia bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menjadikan (khalaka) kamu dari diri yang satu (adam)  dan menjadikan pasangannya (hawa) dari dirinya dan dari keduanya Allah memperkembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak (QS : An-Nisa ayat 1).
Ayat 30 di surah Al-Baqarah di atas menerangkan penciptaan manusia pertama kali (Adam), sementara pada ayat berikutnya (QS : An-Nisa ayat 1)  menerangkan bahwa Tuhan menjadikan manusia dari ciptaan yang sudah ada sebelumnya.
Kalau hari jadi merupakan saat dimulainya suatu daerah mengalami fase kejayaan, maka masa kejayaan Majene (kerajaan Sendana, kerajaan Banggae,  kerajaan Pambauang, dan kepemimpinan Tomakaka Ulumanda/Malunda) dimulai atau dihitung dari mana ?. Secara umum zaman kejayaan atau masa keemasan kerajaan – kerajaan di Mandar khususnya di Pitu Ba’bana Binanga, yaitu pada abad pertengahan, abad ke 15 Masehi. Peristiwa penting yang terjadi pada abad pertengahan adalah terbentuknya tata pemerintahan dalam sebuah kerajaan di Mandar yang memenuhi syarat ilmiah disebut sebuah negara yang bentuk pemerintahannya monarci konstitusional. Di abad ini pula (1580) telah terbentuk negara konfederasi Mandar yang lebih popular dengan sebutan Pitu Ba’bana Binanga.
Puncak kejayaan kerajaan-kerajaan di Majene pada zaman itu terjadi pada tahun 1545, hal ini dibuktikan oleh fakta-fakta sejarah. Pada tahun 1545, Daeng Pasau’ yang digelar Tomilake-lake’ Bulawang telah menjalin hubungan bilateral dengan pedagang Portugis. Raja Pambauang ini telah membeli 100 pucuk senapan mesin (ewangang) dari Portugis. Itulah sebabnya dibulan juni 1795 ketika kapal orang Portugis  karam  di perairan Donggala dan menyerahkan diri dalam keadaan cukup sengsara kepada Tuan Hadjee (Tuan Haji) yang secara kebetulan sedang berlayar dari Palu (donggala) menuju Pamboon (Pambauang), dia ditangkap, dan diminta untuk menghadap raja, dan raja memperlihatkan 100 senapan mesin, raja meminta untuk tinggal dan diberi istiri di Pambauang dengan tujuan untuk mengajari penggunaan senapan mesin. Namun ia menolak dengan mengatakan dia hanya pelaut dan tidak mengetahui penggunaan senjata. Akhirnya raja Pambauang mengizinkan untuk pergi dan berlayar ke Makassar melalui pulau San Bottam (Sabutung).
Pada pertengahan abad ke 15 peradaban masyarakat Mandar jauh lebih besar dengan kehadiran islam – islam Melayu yang membentuk karakter dan watak masyarakat Mandar khususnya dalam bidang aqidah, politik dan pemerintahan. Keterangan ini diperkuat oleh Antonio de Peiva yang datang ke Jazirah Mandar pada tahun 1544, dia mengaku dalam suratnya kepada gubernur Portugis di Maluku, bahwa ia pada saat itu missionarisnya terhalang oleh pendatang islam Melayu yang terlebih dahulu menyebarkan islam di DURATE (tanah Sandalwood). Dan Durate terdapat dalam peta pantai barat Sulawesi yang dulu diartikan sebagai Nusa Cendana Timur. Durate (Tanah Sandalwood) seperti yang dikemukakan oleh Campbel Macknight  adalah satu bagian dari tanah Sendana kira-kira 30 Km. dari Majene. Dan terbukti diujung selatan kecamatan Sendana, pas 30 km. dari kota Majene ada nama kampung bernama kampung Malayu dan disana ada kuburan tua yang sering disiarahi masyarakat muslim yang oleh penduduk setempat menyebutnya makam Tuan di Malayu dari Padang Sumatra Barat. Tapi juragang Antonio berhasil menggaet raja Suppa, La Makkawi masuk agama Kristen katolik dan berganti nama menjadi Don Luis.

Jauh sebelum kehadiran Abdurrahim Kamaluddin di kerajaan Balanipa dan Syehk Abdul Mannang di kerajaan Bangggae, serta Syaid Zakariah Hasan Yamani bersama Raden Suryo Dilogo di kerajaan Pambauang, islam sudah menyebar di kerajaan Baras (Mamuju Utara) hingga di kerajaan Sendana sampai ke Taramanu dan Alu, yang dibawah oleh Tosalama yang berasal dari Melayu (Minangkabau, Malaka, dan Samudra Pasai/Aceh) melalui Kalimantan Barat ke Kalimantan Selatan dan menyusuri Kalimantan Timur lalu menyeberan ke pesisir pantai pulau Sulawesi bagian barat di kerajaan Baras. Dan orang-orang melayu itu adalah Syekh Abdurrahman bergelar Tuan di Totolisi, Syekh Sufi Abbas yang bergelar Tuan di Bulo-bulo, Syekh Funqasyaid ada juga yang menyebutnya Syekh Muhammad Said bergelar tuan di Salubulo, Tuan di Lemo-lemo, Tuan di Tanase, dan Tuan di Malayu.

Berdasarkan letak geografis hal ini dimungkinkan terjadi karena perairan selat Makassar di daerah Mandar sangat terbuka lebar dan langsung berhadapan dengan  pulau Kalimantan. Begitu juga arus air laut sangat kencang dari perairan selat Malaka ke selat Karimata dan lebih kencang lagi dari selat Karimata ke selat Makassar di teluk Mandar, khususnya di bagian utara Provinsi Sulawesi Barat, mulai dari Donggala sampai ke Teluk Mandar.

Tidak mengherankan jika banyak pelaut/nelayan Mandar mendapati benda-benda berharga yang dibawah oleh arus air laut dari pulau Kalimantan dan hayut ke selat Makassar, yang dikenal dengan istilah “Rappei Rappang” (banyak kayu/barang yang terdampar dibibir pantai Mandar). Dan ini terjadi pada bulan oktober – november – desember – januari – pebruari - maret (musim barat). Terahir terbukti secara ilmiah, yaitu penumpang dan serpihan pesawat Air Asia dengan nomor penerbangan QZ8501 dalam waktu 30 hari setelah bernasib naas jatuh di perairan pulau Kalimantan pada tanggal 28 desember 2014, enam orang penumpannya terdampar dibawah arus ke selat Makassar di perairan  kabupaten Majene provinsi Sulawesi Barat, dan juga ditemukan di kabupaten Mamuju. Demikianlah proses kedatangan orang-orang asing, utamanya dari sebrang (termasuk para Tosalama) melalui perairan selat Malaka ke selat Karimata, lalu di bawah arus ke selat Makassar di teluk Mandar.
Di abad ke 15 hingga pasca kemerdekaan Pambauang sudah terkenal sebagai pusat transit dengan pelabuhan Ba’babulo dan Luaor, orang datang dan pergi keselat malaka, Singapura, Sumatra, Malaysia, dan Afrika Timur (Madagaskar) yang dikenal dengan Passa’la’. Mereka membawa hasil dagangan berupa barang pecah belah; piring, mangkok, emas, dan lain sebagainya yang sekarang menjadi barang antik.
Ditahun 1545 juga kata Majene sudah popular di kerajaan-kerajaan besar, misalnya di kerajaan Gowa. Tersebut dalam lontar Tallo I Macang Keboka, “dikisahkan bahwa pada tahun 1545 raja Gowa yang ke IX, Daeng Matanre Karaeng Manguntungi Tumaparisi Kallonna yang memerintah di tahun1512 – 1547 memerintahkan raja Tallo Ilanglenbumi, Mangkubumi kerajaan Gowa “tapi bukan” Imappatakan Tana Karaeng Pattingalloang “Naongko Maeri Majeknek Na Nupa’jului Sa’ribattannu I Rawa Na Nuropui Tidunga “ artinya turunlah ke Majene bantu saudaramu di bawah dan hancurkanlah Tidung (pengacau dari luar) “.

Nama Majene sebuah misteri dan keajaiban, ia merupakan nama perekat/pemersatu, karena mulai dari Lutang di perbatasan selatan – sampai di Maliaya bagian utara – hingga di timur berbatasan dengan Polman – dan di barat selat Makassar, tidak akan ditemukan  sejengkal tanah perkampungan yang bernama Majene. Tapi Majene merupakan nama sifat yang melekat pada jiwa masyarakat Majene dari dulu hingga saat ini. Kata Majene yang berarti Manje’ne’ (berwudhu) dan/atau bisa juga berarti air yang mensucikan.

Manje’ne’ yang berarti berwudhu atau air yang mensucikan mempunyai pelabuhan di Ba’babulo dan Pangali-ali yang sangat strategis dijadikan tempat tujuan, orang datang dan pergi mencari sumber kehidupan (laksana air sebagai sumber kehidupan) yang bukan saja masyarakat Mandar tapi juga orang-orang Portugis, Antonio de Paiva bersama kapten Malaka, Rui Vas Pereira di tahun 1544 perna menelusuri teluk Mandar dipesisir Majene dengan mencari kayu cendana selama 3 bulan, yakni bulan april – mei - juni. Begitu juga di abad-abad berikutnya secara global Majene masuk dalam peta ekspedisi armada-armada asing khusnya VOC menjadikan Majene sebagai tempat transit di pelabuhan Pangali-ali untuk mengangkut hasil bumi khusnya rempah - rempah. Itulah salah satu pertimbangan sehingga pemerintah kolonial Belanda tepatnya 15 april 1909 Majene dijadikan sebagai pusat Apdeling Mandar yang meliputi Apdeling Polewali Mamasa, Apdeling Majene, dan Afdeling Mamuju. Dan untuk mengenang peristiwa itu maka Peraturan Daerah kabupaten Majene No.  tentang Penetapan Hari Jadi Majene menetapkan tanggal 15 sebagai tanggal hari jadi Majene.

Tidak sampai disitu, ketika Mandar terintegrasi kedalam bagian dari NKRI   dikeluarkan Surat Keputusan Pemerintah RI tertanggal 12 agustus 1952  No. 34 kawasan Afdeling Mandar berubah nama menjadi daerah Swatantra Tingkat II Mandar dan Majene dijadikan sebagai pusat pemerintahan Mandar lama, A. Syukur Rahim sebagai ketua DPRD Swatantra Mandar (1953 – 1959). Perubahan wilayah selanjutnya berdasarkan Undang-Undang No. 29 tahun 1959 tentang pembentukan daerah-daserah tingkat II di Sulawesi maka Mandar lama dimekarkan menjadi 3 kabupaten, yaitu kabupaten Polewali – Mamasa, kabupaten Majene, dan kabupaten Mamuju.

Tahun hari jadi Majene tidak dipilih pada saat berdirinya kerajaan dan dilantiknya raja pertama di kerajaan Sendana, begitu juga di kerajaan Banggae, dan dikerajaan Pambauang dan juga dikepemimpinan Tomakaka Ulumanda dan/atau Malunda. Tapi tahun yang  dipilih adalah masa kejayaan atau zaman keemasan memenuhinya syarat secara ilmiah di empat kepemimpinan itu sebagai sebuah kerajaan , yakni ditahun 1545.
Sebagai sebuah daerah yang memiliki pejuang kemerdekaan serta semangat patriotisme yang berintegrasi kedalam NKRI, maka bulan agustus dipilih sebagai bulan hari jadi Majene dengan alasan sebagai berikut : (1) Pada bulan agustus setelah beduk dan azan subuh dikumandangkan, Ammana Pattolawali dan Ammana Wewang memimpin masyarakat Majene menyerbu tangsi dan rumah resident Belanda yang ada di Camba dan Pangalia-ali; (2) Bulan Agustus adalah bulan diproklamirkannya bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat dan merdeka, dan Majene adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI); (3) bulan agustus adalah bulan penetapan Majene sebagai pusat pemerintahan Swatantra Mandar (Mandar lama).
Pertanyaan kemudian sejauhmana masyarakat Majene khususnya DPRD dan pemerintah daerah untuk kembali menjadikan Majene sebagai tempat transit/tujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi demi kesejahteraan masyarakat. Pertanyaan ini, bisa dijawab dengan tetap konsisten menjadikan Majene sebagai pusat Pendidikan, dengan demikian maka orang orang akan datang menuntut ilmu, sehingga pertumbuhan ekonomi khususnya dibidang jasa dan industri akan mengalami pertumbuhan.

Makna Hari Jadi
Hari jadi Majene hendaknya dimaknai (1) untuk menumbuhkan rasa optimisme mengharumkan nama baik kabupaten Majene; (2) Memberikan spirit, rasa bangga dan kemandirian bagi generasi demi pembangunan dimasa yang akan datang; (3) sebagai perekat, pemersatu bahwa kita berasal dari sejarah, adat, dan budaya yang satu sehingga dapat menumbuhkan harga diri dan/atau jati diri ditengah arus peradaban dunia.
Majene Bersemboyang Bumi Assamalebuang
Kalau Polewali Mandar bersemboyang Bumi Tipalayo, Mamasa Kondossapata, Mamuju Manakarra, maka Majene pun tak ketinggalang dengan semboyang bumi assamalebuang. Assamalebuang berasal dari akar kata Malebu yang berarti bulat (sependapat). Assamalebuang dibaca Assamalewuang; hukum pengucapan bahasa Mandar : konsonan “B” yang diapit oleh vocal “E” dan “U” diucapkan “W” dan seterusnya. Assamalebuang yang berarti kebulatan, mengandung makna kepaduan, keutuhan, dan keseluruhan. Menyatukan perbedaan dalam semangat persatuan (Assamalebuang), kurang lebih sama dengan makna Bhinneka Tunggal Ika (beraneka ragam budaya, bahasa tapi satu yaitu Indonesia) karena memang di wilayah Majene ada 4 kerajaan dan/atau kelompok masyarakat yang membentuk 1 (satu) daerah otonom (kabupaten Majene) yaitu Banggae, Pambauang, Sendana, dan Ulumanda’/Malunda’.
Pemberian gelar Bumi Assamalebuang sebagai semboyang kabupaten Majene tentu melalui kajian sejarah dan budaya yang mendalam, sebut saja misalnya rapat-rapat dan deklarasi tentang rencana pembentukan Provinsi Sulawesi Barat ditempatkan di gedung Assamalebuang sebagai bagunan serbaguna di kabupaten Majene, di gedung ini juga banyak melahirkan gagasan dan pemikiran untuk membangun daerah dan bangsa.
Begitu juga peristiwa bersejarah perna terjadi pertikaian antara kerajaan Rattebulahang di Pitu Ulu Salu dengan kerajaan Balanipa di Pitu Ba’bana Binanga, juga diselesaikan di Malunda’ (kabupaten Majene). Peristiwa ini terjadi diperkirakan pada abad ke XV Masehi. Keterangan yang diperoleh dari Pitu Ulu Salu menyebutkan bahwa ; Assamalebuang di Malunda’ ini diadakan dalam rangka menyelesaikan sengketa antara Balanipa dengan Rattebulahang sebagai daerah yang bergelar Indo Lembang dan Toma’dua Taking-Toma’tallu Sulengka di Pitu Ulunna Salu’.
Dari Pitu Ba’bana Binanga berpendapat bahwa Assamalebuang ini diadakan dalam rangga menyelesaikan masalah perbedaan paham antara Pitu Ulunna Salu’ dengan Pitu Ba’bana Binanga mengenai Lalikang Tallu di Malunda’ dan Latte Samballa di Ta’ang. Ada pula yang berpendapat bahwa masalah daerah Palili’ Massedan yang statusnya tidak jelas, apakah masuk di wilayah Pitu Ulunna Salu atau masuk di wilayah Pitu Ba’bana Binanga.
Tidak dapat diketahui secara pasti mana yang benar diantara pendapat tersebut di atas, namun Assamalebuang di Malunda ini merupakan awal terjadinya kesepakatan secara resmi antara kelompok Pitu Ulu Salu’ dengan Pitu Ba’bana Binanga dan sekaligus menjadi dasar pokok diantara kesepakatan yang terjadi berikutnya.
Hal yang menarik dalam peristiwa ini adalah adanya jaminan sosial secara menyeluruh dan bebas antara kedua belah pihak dan adanya sanksi bersama bagi pembangkan Assamalebuang yaitu tidak diterima laku hidup di dua daerah (tak tawar di sungai tak asin di laut).
Lokasi kesepakatan ini masih dapat kita jumpai di sekitar bibir pantai Malunda, karena disitu masih ada situs atau tanda berupa nizan sebagai simbol terkuburnya pertikaian antara Pitu Ulunna Salu dengan Pitu Ba’bana Binanga. Bukan batu nizan kuburan tapi itulah Allamungang batu di Malunda. Semestinya pemerintah daerah melestarikan dan menjaga prasasti yang cukup bersejarah ini.
Assamalebuang di Malunda’ ini mengandung isi antara lain : (1) Maloli’ tallo’ di Pitu Ulunna Salu tarruppu’ tammammar. Maloli’ tallo’ di Pitu Ba’bana Binanga tarruppu’ tammammar : Telur terguling di Pitu Ulunna Salu’ dan terguling di Pitu Ba’bana Binanga, tak luluh dan tak memar; (2) Moa’ siruppa’i uwai lembang anna’ uwai le’bo’, lembang tammasing le’bo’ tammatawar. Padza nipposoe soeta’, nipojappa jappata’, padza nipeada’ ada’ta, niperapang rapatta, padza monetei di petabung tarra’ba, padza mandandang bassi’ nipagittiratta, di Pitu Ulu Salu di Pitu Ba’bana Binanga : Kalau bertemu air sungai dan air laut, air sungai tak asin, air laut tak tawar, masing-masing bebas mengayun tangan, bebas melangkahkan kaki, masing-masing memakai hukum dan peraturan sendiri, masing-masing meniti di atas pematang tak runtuh, masing-masing menuntun tali pelurus yang direntang sendiri, di Pitu Ulu Salu’ - di Pitu Ba’bana Binanga; (3) Mappa’lasang marosongi mattandu’ masadi’ Pitu Ulunna Salu di Pitu Ba’bana Binanga : Berpunggung tegak, bertanduk runcing Pitu Ulu Salu di Pitu Ba’bana Binanga, laksana ayam jago Pitu Ba’bana Binanga di Pitu Ulunna Salu’; (4) Moa’ sambar di mata alloi penamula di Pitu Ba’bana Binanga, napeabassui nape’amarangngi to Pitu Ulunna Salu di po’anna tannapelemba’i, tettoi penamula di Pitu Ulunna Salu moa’ sambar di atambusangi, nape’amarangngi nape’abassui to Pitu Ba’bana Binanga tannapebullei : Kalau pepohonan condong ke arah matahari-terbit di Pitu Ba’bana Binanga, dimakan dan diminum buah di bawah pohonnya-sampai kenyang oleh orang-orang Pitu Ulunna Salu’ dan tidak boleh di bawah pulang hasilnya. Begitu pula di Pitu Ulunna Salu’ jika pepohonan condong ke arah matahari terbenam-dimakan dan diminum buah di bawah pohonnya sampai kenyang oleh orang-orang Pitu Ba’bana Binanga dan tidak boleh di bawah pulang hasilnya; (5) Pitu Ba’bana Binanga memata di mangiwang, Pitu ulunna Salu’ memata dikodo : Pitu Ba’bana Binanga mengintai ikan hiu (menjaga musuh dari Pantai), dan Pitu Ulu Salu’ mengintai monyet (menjaga musuh dari gunung); (6) Tassipande rasung tassipadzundu pelango, tassilatta petabung tassibottu bassi’, Pitu Ulunna Salu anna’ Pitu Ba’nana Binanga : Tidak saling memberi makanan beracun, juga tidak saling memberi minuman yang memabukkan (mengandung racun), tidak saling melanggar hukum antara Pitu Ulunna Salu dengan Pitu Ba’bana Binanga; (7) Iya-iyannamo mamboe’ pura loa, lara’ba beang larumbang kalo-kalo, moa’ diandi nasesa Dewata tammatawar di lembang tammasing di le’bo’, tannipa’bati pennannaranna : Barang siapa yang mengingkari kata yang telah disepakati, hidup dan keturunannya berguguran punah, kalaupun ada yang disisahkan dewata - tak tawar disungai, tak asin di laut (keturunannya sia-sia).
Begitu juga pertikaian antara raja Pambauang, Daeng Tulolo dengan raja Balanipa, Ima’ga Daeng Rioso juga diselesaikan di Lombong Malunda (kabupaten Majene). Assamalebuang ini lahir diperkirakan pada abad ke XVII Masehi, suatu ketika Mara’dia Pambauang, Daeng Tulolo yang digelar ketika mangkatnya Tomatindo di Bata, berselisih paham dengan Ima’ga Daeng Rioso, Mara’dia Balanipa mengenai Ipura Para’bue’.
Assamalebuang di Lombong Malunda’ ini mengandung isi antara lain (1) Nibei engenang naengei mappassau nyawana mappalewa anaoang pa’mai’na mara’dia Pambauang siola palluppuinna sappellu’uang tedzong ingganna naulle nakaekaer manu’na, nibengattoi le’bo’ nanaengei mandoang anna manjala palluppuinna ingganna lekkotang : Diberikan lokasi Mara’dia Pambauang bersama pengawalnya untuk digunakan memulihkan semangatnya, sekandang kerbau, sejauh yang dapat di jelajah ayamnya. Juga diberikan lautan untuk ditempati memancing dan menangkap ikan para pengawalnya, sedalam - sampai lipatan lutut; (2) Napoada’ ada’na naporapang rapanna odiada’ odibiasa di lita’na di Pambauang : Dia memakai hukum dan peraturannya sendiri, seperti apa yang telah dibiasakan di Pambauang; (3) Diapiangammi tandikadzaeang, tandipeo’dong tandipelango, tannaolle’ boning tannalala pangolle’, tannande pakkirakira tammappikkir dipetillu’na sawa dipebetona lambaru, tannipaumo dibandangang dikondobulo : Kebaikan telah ada padanya dan tidak ada keburukan, terhindar dari makanan yang bisa menulang, minuman yang beracun, tak terjangkau pasang, tak terjangkau banjir, terluput dari iri, tak berfikir tentang gigitan ular, juga pada sengatan ikan pari (bahaya fitnah, bahaya dari laut dan bahanya dari darat), lebih-lebih bahaya dari serangan musuh/peperangan); (4) Lumbappai pasorang, repppo’pai kondobulo ma’guliling anna’ nalosai moa’ diang namappakkesara : Nanti semua gagang tombak rebah, semua parang pusaka panjang pada patah di sekelilingnya, baru musuh bisa tembus padanya. (5) Moa’ melo’i membali’ di lita’na, tannaelo’na di nassagenainna, naiya engenanna membali’i di assalanna : Kalau ia ingin pulang kembali kenegerinya di Pambauang, terserah padanya jika ia telah sanggupi, adapun tanah tempatnya, akan kembali ke asalnya.
Yang terlibat dalam Assamalebuang di Lombong Malunda adalah (1) Daeng Tulolo, Mara’dia Pambauang bersama istirinya, Ipura Para’bue’; (2) Tomakaka’ Ulumanda’; (3) Pue’  di Lombong, Pue’ Mosso, Pue’ Bambangang; (4) Tomakaka Sambawo’; (5) Pue’ di Salutambung; dan (6) Pue’ Liba’ dan Balanggitang.
Untuk membumikan Assamalebuang sebagai semboyang di kabupaten Majene, maka Dewan Perwakilan Rakyat Daerah  kabupaten Majene melahirkan Peraturan Daerah melalui hak inisiatif tentang Desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) telah diperbaharui nama menjadi : Desa menjadi Banua dan BPD menjadi Assamalebuang. Dan inilah kehendak UUD 1945 hasil amandemen ke empat pasal 32 ayat (1) “Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia ditengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya”; ayat (2) “ Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional”. Sebagaimana juga telah berlaku dibeberapa daerah lain di Indonesia, misalnya di Jawa dan Madura disebut Desa, di Aceh disebut Gampong, di Batak disebut Huta, di Minangkabau disebut Nagari, di Sumatra Selatan disebut Marga, di di Kalimantang disebut Suku, di Toraja disebut Lembang dan lain sebagainya.
Demikian tulisan ini, selamat memperingati jari jadi Majene yang ke 470 semoga warga masyarakat Majene tetap mempertahankan jati dirinya yang Manje’ne’ (tetap suci dan mensucikan) sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang bermartabat ditengah arus peradaban dunia.

4 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Mf dlm Tulisan sdr terdpat Nama Tuan dibulobulo sbg pendatang dri Melayu... Perlu sedikit diluruskan bahwa Beliau Mempunyai Bapak yg bergelar Daeng Mappata dan Istri dri Daeg Mappata inilah pendatang dri Melayu keturunan " sayye" .. Jadi sedikit keliru ketika di pahami bahwa beliau 100% pendatang... Sedangkan Beliau mempunyai sdr Sebapak bergelar " Tonipetukaan" yg nota benenya Nenek moyang dri Orang Tullu Bulan..Sedangkan anak cucu Tuan di bulobulo skrg terdapat di Daerh Bulobulo dan tersebar dibanyak daerah Polman,Majene,Mamuju dan bahkan Kalimantan.Thanks.

    BalasHapus
  3. GVC Holdings Inc, AB - Interactive Map & Floor Plans
    GVC Holdings Inc, AB - Interactive Map & Floor Plans 군포 출장마사지 - Las Vegas, NV, USA - 김제 출장샵 Use 아산 출장안마 this detailed data 강릉 출장안마 to explore GVC Holdings Inc's 논산 출장샵 activities, revenue, employees,

    BalasHapus
  4. Best Places To Bet On Boxing - Mapyro
    Where To Bet On ventureberg.com/ Boxing. jancasino.com It's https://jancasino.com/review/merit-casino/ a sports betting event in which you bet on the outcome of a game. In poormansguidetocasinogambling.com the boxing world, each player must 메이피로출장마사지 decide if or not to

    BalasHapus